border:2px solid #0000ff; border-color:#9ecaed; box-shadow:0 0 30px #9ecaed;

Sabtu, 08 Desember 2012

Cerpen Guru Terbaik dan Murid Kebanggaan


Pilihan yang tepat untuk kalian yang membuka blog ini, cerpen adalah cerita yang menceritakan satu masalah yang terjadi dan fokus pada masalah tersebut. Berikut adalah contoh cerita pendek yang saya tulis dalam tugas Sastra Indonesia saya.


Guru Terbaik dan Murid Kebanggaan

            Ibu Mery adalah seorang guru sekolah dasar di salah satu sekolah di Indonesia, ia dikenal sebagai guru yang ramah, baik dan penuh perhatian namun cukup keras terhadap anak-anak muridnya. Seperti guru-guru pada umumnya ia sangat sayang dan cinta terhadap semua muridnya. Ibu Mery memiliki seorang murid yang berbeda dai murid lainnya, walau sekilas tak ada perbedaan dari sosok anak tersebut. Erik namanya, ia adalah seorang murid kelas V yang cukup menjadi sorotan bagi para guru terutama dengan Ibu Mery yang cukup memberikan perhatian kepadanya, Erik merupakan anak yang selalu ceria di setiap saat sehingga teman-temannya pun senang terhadapnya.
            Suatu pagi yang sejuk menghantarkan embun untuk memberi kesejukan kepada semua orang, tak terkecuali anak-anak murid di sekolah dasar itu dimana tempat Erik menuntut ilmu. Angin yang bertiup secara perlahan membuat suasana pagi hari itu menjadi lebih tenang dan damai. Sekiranya pukul 6:30 bel sekolah pun berbunyi tanda masuk sekolah, anak-anak pun dengan tertib segera memasuki ruangan kelasnya masing-masing, begitu pun dengan Erik yang sedari tadi menatap dan menghirup kesejukan pagi di depan kelasnya.
            “Selamat pagi anak-anak” terdengar sapaan Ibu Mery yang tampak sangat bersemangat untuk mengajar para muridnya.
            “Selamat pagi Ibu Mery..” jawab para murid yang ada di dalam kelas.
Ibu Mery pun dengan penuh semangat langsung mempersiapkan murid-muridnya untuk belajar dan menyimak apa yang ia jelaskan, karena pagi itu sangat indah semua murid yang berada di dalam kelas pun ikut ceria termasuk Ibu Mery. Namun ketika Ibu Mery sedang menerangkan pelajaran kepada anak-anak, ia melihat ada yang berbeda dari sosok Erik. Ibu Mery terus memperhatikan gerak-gerik anak itu, setelah dilihat dan dipandangnya cukup lama ternyata benar ada yang berbeda dari Erik. Hari itu ia tidak terlihat seperti Erik yang biasanya, Erik yang dikenal sebagai anak yang ceria, selalu menebarkan senyum manisnya dan membuat orang lain tertawa. Kali ini Erik terlihat menjadi anak yang sangat pendiam, bahkan lebih pendiam dari anak murid yang memang memiliki sifat pendiam.
            Tak perlu menunggu lebih lama, Ibu Mery yang sejak tadi memperhatikan Erik yang berubah menjadi pendiam langsung menghampiri anak itu dan mencoba menanyakan apa yang sedang terjadi kepadanya sehingga ia seperti itu.
            “Rik.. Erik.. ada apa denganmu? Mengapa kamu diam saja hari ini, cobalah lihat diluar sana, mentari menyambut kita semua dengan penuh keceriaan, janganlah kamu terdiam seperti itu nak.” Tanya Ibu Mery kepada Erik.
            “hmm.. saya baik-baik saja bu Mery” jawab Erik dengan nada yang sangat terkejut karena pertanyaan Ibu Mery yang sangat mengejutkan itu.
Saat itu Erik berusaha menutupi apa yang terjadi terhadap dirinya, ia tidak ingin Ibu Mery mengetahui apa yang sebetulnya terjadi.
            “Teng… Teng.. Teng.. .” suara bel berbunyi tanda istirahat.
Anak-anak pun langsung berhamburan keluar kelas begitupun dengan Erik memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri terhadap Ibu Mery yang sejak tadi ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Erik.
            Keesokan harinya Ibu Mery kembali mengajar anak-anak muridnya, seperti biasa suasana kelas sangat ramai dan anak-anak pun sangat ceria dan semangat untuk belajar. Hari itu Ibu Mery memberikan hasil ulangan beberapa hari lalu kepada murid-muridnya, namun ia terkejut karena melihat hasil ulangan Erik, dengan rasa penuh kecewa Ibu Mery memberikan coretan nilai yang cukup tebal dan besar, ia memberikan nilai F yang berarti failed (gagal) kepada Erik. Ibu Mery sangat marah melihat anak muridnya mendapatkan nilai hasil seperti itu, ia pun langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan Erik. Ibu Mery lantas meminta Erik dating ke ruangannya untuk mempertanyakan hal tersebut. Seketika Erik terkejut dan heran mengapa ia dipanggil ke ruangan ibu Mery.
            “Teng…Teng…Teng…” bel berbunyi memanggil para murid untuk pulang karena pelajaran telah usai. Namun saat itu Erik tidak segera pulang seperti anak murid lainnya, ia terus termenung dan berjalan perlahan menuju ruangan Ibu Mery untuk memenuhi permintaan sang guru. Waktu terus berjalan sekolah pun mulai sepi dan suny, yang terdengar hanyalah suara hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan yang ditemani langit biru yang indah. Erik pun sampai di depan pintu ruangan bu Mery, dengan perlahan ia memasuki ruangan tersebut yang di dalamnya sudah berada Ibu Mery yang sedari tadi menunggunya.
            “Selamat siang Bu” salam Erik dengan raut wajah yang heran.
            “Siang nak, silahkan duduk!” pinta Ibu Mery kepada Erik.
            “Maaf Bu, ada perlu apa Ibu memanggil saya ke ruangan Ibu?” Tanya Erik yang semakin bingung.
            “Begini Erik, Ibu ingin mempertanyakan tentang hasil ulangan kamu yang buruk, mengapa kamu mendapat nilai F? dan bukan hanya itu saja, akhir-akhir ini ibu sering melihat kamu terdiam, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu nak?” Tanya ibu Mery dengan rasa penasarannya.
            Dengan hati yang bimbang karena perasaannya yang berada di antara jujur dan tidak. Namun akhirnya Erik memutuskan untuk menyembunyikan masalahnya kepada Ibu Mery. “Hmm… saya baik-baik saja bu, tidak ada yang aneh pada diri saya” jawab Erik dseolah-olah tidak ada masalah. Setelah Erik menjawab pertanyaan itu, ia langsung sesegera mungkin untuk pamit dan mencoba menghindari pertanyaan-pertanyaan Ibu Mery yang lainnya.
            Keesokan harinya karena Ibu Mery belum puas terhadap jawaban Erik yang menurutnya itu adalah jawaban yang tidak jujur dari Erik. Ibu Mery tidak percaya bahwa Erik tidak memiliki masalah apa-apa. Ibu Mery pun terpikir untuk menyelidiki masalah yang dihadapi Erik jauh lebih dalam. Ibu Mery mencari tahu masalah tersebut melalui para guru yang pernah mengajar Erik. Ia mencoba mencari dan membaca buku catatan tentang Erik dari awal dia masuk sekolah. Saat Ibu Mery membaca catatan Erik, ia terkejut karena guru kelas 1 mengungkapkan bahwa Erik adalah anak yang cemerlang, setelah itu guru kelas 2 mengatakan bahwa ibunya Erik terkena peyakit parah. Ketika Erik kelas 3 ternyata Ibunya yang terkena penyakit parah itu telah meninggal dunia. Dan ketika ia duduk di kelas 4 Erik sudah tidak bersemangat untuk sekolah, saat itu ayahnya sudah tidah begitu memperhatikannya. Seiring berjalannya waktu maslah Erik pun sedikit demi sedikit dilupakannya, namun entah mengapa di kelas 5 ini Erik kembali dalam keadaan dimana ibunya pergi meninggalkannya.
            Sejak Ibu Mery menyelidiki permaslahan tersebut ia berpikir bahwa ia telah salah memperlakukan Erik dengan kasar dan ia sangat malu terhadap perlakuannya tersebut terutama ketika Erik mendapatkan nilai F. Sekarang Ibu Mery lebih memperhatikan kondisi Erik, ia memberikan perhatian lebih kepadanya.
            Beberapa hari kemudian Natal pun tiba, seperti biasanya para murid memberikan kado-kado istimewa kepada para gurunya. Ketika semua murid-murid membawakan hadiah Natal yang dibungkus dengan pita-pita indah dan kertas yang menyala, lain halnya dengan Erik, hadiah darinya sangat kumal dan hanya dibungkus dengan kertas coklat yang sudah sedikit sobek.
            “Ibu Mery, ini hadiah untukmu ibu” kata Erik sambil menyerahkan kadonya.
Ibu Mery dengan sangat terharu membuka kado Erik dan berkata, “terima kasih nak.”
Anak-anak mulai mentertawakannya saat mereka tahu bahwa yang diberikan Erik kepada Ibu Mery hanyalah gelang batu yang beberapa batunya telah hilang dan sebuah botol parfum yang isinya hanya setengah dari botol tersebut.
            Hari berikutnnya setelah sekolah usai, Erik menunggu Ibu Mery cukup lama untuk mengatakan “Ibu Mery, hari ini bau wangi anda sangat khas seperti ibu saya, terlebih ditambah dengan gelang itu, kau begitu cantik bu.”
Ibu Mery pun menangis cukup lama setelah mendengar kata-kata itu dari mulut Erik.
Perhatian khusus yang diberikan Ibu Mery membuat hidup Erik semakin membaik. Di akhir tahun, Erik menjadi murid terpandai di kelasnya. Namun di samping itu Ibu Mery menjadi berbohong kepada semua muridnya yang mengatakan bahwa ia akan memberikan perhatian yang adil terhadap semua murid, tetapi pada kenyataannya Ibu Mery menjadikan Erik sebagai murid kesayangannya dengan memberikan perhatian khusus yang berbeda dengan anak lainnya.
            Satu tahun berlalu setelah kelulusan Erik dari sekolah itu, Ibu Mery mendapatkan surat yang dikirimkan Erik melalui pos. Di dalam surat tersebut Erik mengatakan bahwa Ibu Mery adalah guru terbaik yang pernah dimilikinya.
Sekitar lima tahun berlalu Erik pun kembali mengirimkan surat kepada Ibu Mery yang mengatakan bahwa Ibu Mery tetap menjadi guru terbaiknya dan kini ia sudah ingin lulus SMA.
            Suatu pagi yang cukup dingin, ketika Ibu Mery ingin menghirup udara pagi hari yang sejuk dari halaman rumah sekiranya empat tahun berikutnya setelah surat kedua yang diterimanya dari Erik , terlihat sepucuk surat berada di bawah pintu rumahnya, ia mengira bahwa itu adalah surat dari Erik, dan ternyata benar itu adalah surat dari Erik. Dalam surat itu Erik menjelaskan bahwa ia sedang kuliah dan ingin menyelesaikannya dengan gelar yang tinggi, Erik juga mengungkapkan bahwa Ibu Mery tetap menjadi guru terbaik selama hidupnya dan guru yang paling disukainya.
            Beberapa tahun setelah Erik menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar sarjana yang cukup tinggi, ia kembali mengirimkan surat kepada Ibu Mery, dan kali ini surat tersebut mengungkapkan bahwa, Erik telah bertemu dan berkencan dengan wanita yang dicintainya dan akan segera menikahinya, ia meminta Ibu Mery datang dan menggantikan posisi Ibunya untuk duduk berdampingan dengannya, dalam surat itu Erik juga mengatakan bahwa ayahnya telah menggial beberapa tahun yang lau, selain itu ia mengatakan bahwa Ibu Mery tetap menjadi guru terbaiknya dan paling ia kagumi. Ibu Mery terharu membaca surat dari Erik tersebut ia pun meneteskan air matanya.
            Hari dimana acara pernikahan Erik pun tiba, Ibu Mery bersiap untuk menghadiri acara tersebut dan menggantikan posisi ibu Erik. Tak lupa ia pun mengenakan gelang batu yang beberapa batunya telah hilang dan memakai parfum yang diberikan Erik ketika Natal bersamanya. Sesampainya Ibu Mery di tempat acara pernikahan Erik ia sangat kagum melihat Erik telah sukses dan sangat membanggakan, Erik pun menyambut kedatangan tamu istimewanya tersebut, Erik langsung memeluk sang guru dan berkata
“Terima kasih Ibu Mery kau telah datang ke acara ini, terima kasih kau telah merubahku menjadi sosok yang terpenting dalam hidupmu”
Dengan air mata yang berlinang, Ibu Mery menjawab perkataannya, “Erik, kaulaah yang membuat dirimu berubah menjadi seperti ini, dan kaulah yang mengajariku tentang bagaimana cara mendidik dengan benar”
            “Terima kasih ibu, kau selalu tetap menjadi guru terbaik yang pernah ku miliki selama hidupku, kau begitu berarti bagiku bu.”. “kau tampak sangat cantik dengan memakai gelang itu dan parfummu masih sama seperti ibuku, terima kasih ibu.” Saut Erik sambil memeluk Ibu Mery dengan penuh kasih sayang.
            Acara pun dimulai dan dengan bangga Ibu Mery duduk di samping Erik menggantikan posisi ibunya sebagai orang tua mempelai.
Erik adalah murid yang menjadi kebanggaan Ibu Mery dan Ibu Mery adalah guru yang menjadi guru terbaik Erik selama hidupnya di dunia ini.


itulah cerita pendek yang saya tulis untuk tugas Sasta Indonesia, semoga dapat menjadi referensi anda semua dalam menulis cerpen ya. silahkan lihat contoh naskah pidato untuk lebih paham tentang sistematika naskah pidato yang baik dan benar.
follow saya , terima kasih sudah mengunjungi blog ini.

0 komentar:

Poskan Komentar